AmoraInsight.com — Tidak semua luka akibat hubungan terlihat secara fisik. Ada hubungan yang berakhir, tetapi meninggalkan ketakutan, sulit percaya kepada orang lain, kecemasan, hingga perubahan cara seseorang memandang dirinya sendiri.
Dalam psikologi, pengalaman menyakitkan dalam hubungan dapat dipahami melalui beberapa perspektif, salah satunya attachment theoryatau teori keterikatan.
Menurut teori yang berawal dari pemikiran John Bowlby dan kemudian dikembangkan dalam penelitian hubungan romantis oleh para peneliti seperti Hazan, Shaver, Mikulincer, dan Shaver, hubungan dekat menjadi bagian penting dalam sistem psikologis manusia untuk memperoleh rasa aman. Ketika hubungan tersebut mengalami konflik, kehilangan, penolakan, atau pengkhianatan, sistem keterikatan dapat mengalami tekanan.
Ketika Orang yang Dicintai Menjadi Sumber Luka
Trauma dalam hubungan dapat menjadi semakin kompleks ketika orang yang menyakiti adalah seseorang yang sebelumnya dipercaya.
Hal ini dijelaskan melalui Betrayal Trauma Theory yang dikembangkan oleh psikolog Jennifer Freyd. Teori ini menjelaskan bahwa pengkhianatan dari orang yang dekat dan dipercaya dapat memiliki dampak psikologis yang lebih berat karena korban menghadapi konflik antara kebutuhan untuk mempertahankan hubungan dan kebutuhan untuk melindungi dirinya sendiri.
Itulah sebabnya seseorang yang pernah mengalami pengkhianatan, manipulasi, kekerasan emosional, atau kekerasan dalam hubungan dapat mengalami kesulitan untuk kembali percaya.
Bukan karena ia tidak ingin mencintai lagi. Tetapi karena otaknya telah belajar bahwa kedekatan bisa berarti bahaya.
Dampaknya terhadap Psikologi
Trauma hubungan dapat muncul dalam berbagai bentuk. Seseorang mungkin menjadi sangat waspada terhadap perubahan sikap pasangan, takut ditinggalkan, sulit percaya, terus-menerus memikirkan kejadian masa lalu, atau justru menghindari hubungan baru.
Penelitian tentang trauma pengkhianatan menemukan bahwa pengalaman trauma yang lebih berat berkaitan dengan lebih banyak gejala depresi, disosiasi, dan PTSD, meskipun respons setiap individu berbeda.
Dalam hubungan berikutnya, luka tersebut juga dapat memengaruhi pola attachment. Seseorang dapat menjadi lebih *anxious*—terus membutuhkan kepastian dan takut ditinggalkan—atau menjadi lebih *avoidant*, yaitu menjaga jarak emosional untuk melindungi diri dari kemungkinan terluka kembali.
Bukan Berarti Selamanya Rusak
Trauma cinta tidak berarti seseorang akan selamanya tidak mampu mencintai.
Pengalaman hubungan berikutnya yang aman, dukungan sosial, pemahaman terhadap diri sendiri, dan bantuan profesional ketika diperlukan dapat menjadi bagian dari proses pemulihan. Penelitian tentang attachment juga menunjukkan bahwa pola keterikatan tidak sepenuhnya kaku dan dapat berubah melalui pengalaman hubungan yang lebih aman. ([PubMed Central (PMC)][1])
Karena itu, seseorang yang pernah terluka tidak perlu memaksa dirinya untuk segera percaya atau mencintai kembali.
Penyembuhan bukan tentang melupakan apa yang terjadi.
Penyembuhan adalah ketika pengalaman tersebut tidak lagi memiliki kekuatan untuk menentukan bagaimana kita melihat diri sendiri, orang lain, dan masa depan.
Pada akhirnya, trauma cinta mengajarkan satu hal penting:
Orang yang pernah terluka tidak membutuhkan nasihat untuk “segera move on”. Ia membutuhkan ruang yang aman untuk memahami lukanya, membangun kembali rasa percaya, dan perlahan menemukan dirinya kembali.
Catatan: Trauma cinta bukan diagnosis klinis tersendiri. Jika pengalaman hubungan menimbulkan gejala berat, menetap, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau berkaitan dengan kekerasan, konsultasi dengan psikolog atau psikiater dapat membantu mendapatkan penanganan yang tepat.*
AmoraInsight.com — Memahami manusia, hubungan, dan luka yang tidak selalu terlihat.






