AMORAINSIGHT.COM —Kekerasan seksual dapat terjadi kepada siapa saja, di mana saja, dan pelakunya bisa merupakan orang yang dikenal maupun tidak dikenal. Karena itu, perempuan yang mengalaminya perlu mengetahui bahwa kekerasan tersebut bukan kesalahannya.

WHO menjelaskan bahwa kekerasan seksual mencakup berbagai tindakan seksual yang dilakukan tanpa persetujuan, termasuk melalui paksaan, intimidasi, maupun tekanan. Dampaknya tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan mental dan kehidupan sosial korban.

Apa yang sebaiknya dilakukan?

1. Utamakan keselamatan

Jika pelaku masih berada di sekitar korban, mencari tempat yang aman dan meminta bantuan orang yang dipercaya menjadi prioritas.

2. Jangan menyalahkan diri sendiri

Pakaian, kondisi tubuh, status hubungan, lokasi, maupun keputusan korban sebelum kejadian tidak pernah menjadi pembenaran atas kekerasan seksual.

3. Cari dukungan

Korban tidak harus menghadapi situasi tersebut sendirian. Berbicara kepada orang yang dipercaya, tenaga kesehatan, pendamping, atau lembaga yang memberikan layanan bagi korban dapat menjadi langkah awal.

4. Pertimbangkan pemeriksaan medis

Pemeriksaan kesehatan dapat membantu menangani cedera, risiko kehamilan, infeksi menular seksual, maupun kebutuhan kesehatan lainnya. WHO menekankan bahwa kebutuhan korban mencakup kesehatan fisik, kondisi psikologis, keselamatan, serta dukungan berkelanjutan.

5. Simpan bukti jika korban ingin melapor

Pesan, rekaman komunikasi, foto, pakaian, atau informasi mengenai waktu dan tempat kejadian dapat disimpan dengan aman. Namun, keputusan untuk melapor tetap merupakan hak korban dan perlu mempertimbangkan kondisi serta keselamatannya.

Melihat kekerasan melalui teori sosial

Dalam Social Ecological Model, kekerasan tidak hanya dipandang sebagai persoalan antara pelaku dan korban. WHO membaginya ke dalam empat lapisan: individu, hubungan, komunitas, dan masyarakat. Norma gender yang membenarkan dominasi, ketimpangan kekuasaan, lingkungan yang tidak aman, hingga lemahnya dukungan institusi dapat ikut menciptakan kondisi yang memungkinkan kekerasan terjadi.

Karena itu, solusi tidak cukup dengan meminta perempuan “lebih berhati-hati”. Masyarakat juga perlu membangun lingkungan yang aman, menghentikan budaya menyalahkan korban, memperkuat sistem perlindungan, serta memastikan korban memperoleh akses terhadap layanan kesehatan, psikologis, sosial, dan hukum.

WHO merekomendasikan pendekatan LIVES ketika mendampingi perempuan yang mengalami kekerasan: Listen, Inquire, Validate, Enhance safety, dan Support—mendengarkan tanpa menghakimi, memahami kebutuhan korban, memvalidasi pengalamannya, membantu meningkatkan keselamatan, serta menghubungkannya dengan dukungan yang dibutuhkan.

Yang paling penting: korban tidak membutuhkan penghakiman. Mereka membutuhkan keselamatan, dukungan, dan seseorang yang percaya kepada mereka.*