AmoraInsight.com-Pilihan untuk menunda atau bahkan menghindari pernikahan kini semakin umum, terutama di kalangan masyarakat urban dan berpendidikan. Fenomena ini bukan sekadar tren, melainkan cerminan perubahan cara pandang terhadap relasi, kebahagiaan, dan tanggung jawab hidup.

Psikolog hubungan internasional Dr. Esther Perel menjelaskan bahwa pernikahan modern memikul ekspektasi yang jauh lebih besar dibanding masa lalu. Pasangan tidak hanya dituntut sebagai pendamping hidup, tetapi juga sebagai sahabat, penyembuh emosi, dan sumber kebahagiaan utama. “Ekspektasi yang terlalu tinggi ini justru membuat banyak orang ragu untuk masuk ke dalam pernikahan,” ujarnya.

Sosiolog keluarga Dr. Andrew Cherlin menambahkan bahwa pernikahan kini telah bergeser dari kewajiban sosial menjadi pilihan personal. Ketika seseorang sudah mandiri secara ekonomi dan emosional, pernikahan tidak lagi dipandang sebagai kebutuhan, melainkan keputusan sadar yang boleh diambil atau ditunda.

Kesadaran terhadap kesehatan mental juga memainkan peran penting. Menurut psikolog perkembangan Dr. Susan Johnson, pernikahan tidak otomatis menyelesaikan trauma atau luka emosional. Tanpa kesiapan psikologis, pernikahan justru berpotensi memperbesar konflik.

Bagi banyak orang modern, menghindari pernikahan bukan berarti menolak cinta atau komitmen. Sebaliknya, itu adalah bentuk kehati-hatian—tidak ingin membangun ikatan besar tanpa kesiapan mental, emosional, dan nilai yang sejalan.

Di era ini, kedewasaan tidak lagi diukur dari status menikah, melainkan dari kemampuan seseorang mengenali dirinya sendiri dan memilih jalan hidup dengan penuh kesadaran.*