AmoraInsight.com – Menjadi korban dari kekerasan, pelecehan, atau perlakuan yang menyakitkan sudah merupakan pengalaman yang berat. Namun, luka dapat terasa semakin dalam ketika cerita korban tidak dipercaya atau justru disalahkan.

Pertanyaan seperti “Kenapa kamu tidak melawan?”, “Kenapa masih bertahan?”, atau “Apa kamu tidak melakukan sesuatu yang memancingnya?” dapat membuat korban merasa bahwa pengalaman mereka tidak memiliki tempat untuk didengar.

Padahal, setiap orang memiliki respons yang berbeda ketika menghadapi ancaman.

Ada yang melawan, melarikan diri, diam, membeku, atau berusaha mengikuti situasi untuk menjaga keselamatan.

Mendengarkan adalah Bentuk Dukungan

Korban tidak selalu membutuhkan nasihat panjang. Terkadang yang paling dibutuhkan adalah seseorang yang mampu berkata:

“Aku percaya bahwa apa yang kamu alami itu berat.”

Mendengarkan bukan berarti kita langsung mengetahui seluruh kebenaran sebuah peristiwa. Namun, mendengarkan dengan empati memberikan ruang bagi korban untuk merasa bahwa pengalaman dan perasaannya tidak diabaikan.

Jangan buru-buru bertanya mengapa korban tidak pergi.
Tanyakan apakah mereka aman dan apa yang mereka butuhkan.

Karena ketika seseorang akhirnya berani bercerita, didengarkan tanpa dihakimi bisa menjadi langkah pertama menuju rasa aman.*