AmoraInsight.com —Ketika anak memasuki masa remaja, ketertarikan terhadap lawan jenis adalah bagian yang wajar dari perkembangan mereka. Karena itu, orang tua tidak cukup hanya mengatakan “jangan pacaran”. Remaja perlu dibekali pemahaman agar mampu menjalani perasaan dan hubungan dengan sehat.
Hal pertama yang perlu diajarkan adalah cinta bukan sekadar perasaan, tetapi juga tanggung jawab. Menyukai seseorang tidak berarti harus memiliki, mengontrol, atau selalu mendapatkan apa yang diinginkan.
Remaja juga perlu memahami batasan (boundaries). Mereka berhak mengatakan tidak terhadap sentuhan, ajakan, komunikasi, atau aktivitas apa pun yang membuat mereka tidak nyaman. Sebaliknya, mereka juga harus menghormati batasan orang lain.
Yang tidak kalah penting adalah mengajarkan harga diri. Hubungan yang sehat tidak membuat seseorang kehilangan teman, pendidikan, cita-cita, atau identitas dirinya. Cemburu berlebihan, posesif, memeriksa ponsel, mengancam, merendahkan, maupun memaksa bukanlah bukti cinta.
Orang tua juga perlu membangun komunikasi yang terbuka mengenai pubertas, ketertarikan seksual, consent, keamanan digital, dan risiko berbagi foto atau informasi pribadi. Remaja yang mendapatkan informasi yang benar cenderung memiliki bekal lebih baik untuk mengambil keputusan yang aman.
Pada akhirnya, tugas orang tua bukan mengendalikan setiap hubungan anak, tetapi mempersiapkan anak agar mampu membuat keputusan yang sehat ketika orang tua tidak berada di samping mereka.
Karena ketika remaja memahami bahwa aku boleh mencintai seseorang tanpa kehilangan diriku sendiri, mereka sedang belajar fondasi penting untuk membangun hubungan yang sehat di masa depan.*






