AmoraInsight.com — Pernahkah Anda merasa pasangan semakin menjauh justru ketika hubungan mulai terasa serius? Ia sulit mengungkapkan perasaan, membutuhkan banyak ruang, atau memilih diam ketika terjadi konflik. Pola seperti ini sering disebut avoidant attachment.

Dalam teori attachment yang dikembangkan dari pemikiran John Bowlby dan kemudian diterapkan pada hubungan romantis, attachment avoidance menggambarkan kecenderungan seseorang merasa tidak nyaman dengan kedekatan emosional dan lebih memilih mempertahankan kemandirian.

Namun, avoidant tidak otomatis berarti tidak mencintai.

Penelitian menunjukkan bahwa orang dengan tingkat attachment avoidance yang tinggi cenderung lebih sulit mencari dukungan emosional, menghindari percakapan yang terlalu intens, dan menarik diri ketika menghadapi konflik. Pola tersebut dapat berdampak pada kepuasan hubungan dan membuat pasangan merasa ditolak atau tidak dianggap.

Dalam hubungan, kondisi ini sering menciptakan siklus “mengejar dan menjauh”. Satu pihak semakin membutuhkan kepastian, sementara pihak lainnya semakin membutuhkan jarak. Semakin dikejar, semakin ingin menjauh; semakin menjauh, semakin kuat pasangan mengejar.

Psikolog hubungan menekankan bahwa attachment style bukanlah diagnosis atau hukuman seumur hidup. Pola keterikatan dapat berubah melalui pengalaman hubungan yang aman, komunikasi yang sehat, dan kesadaran terhadap pola diri sendiri.

Karena itu, daripada bertanya,“Apakah dia avoidant?”, pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Apakah kami sedang membangun hubungan yang membuat keduanya merasa aman?”

Sebab dalam hubungan yang sehat, kebutuhan akan ruang tidak harus berarti meninggalkan, dan kebutuhan akan kedekatan tidak harus berarti mengejar.