AMORAINSIGHT.COM — Istilah open relationship semakin sering muncul dalam percakapan tentang hubungan modern. Berbeda dengan perselingkuhan, open relationship merupakan bentuk consensual non-monogamy (CNM), yaitu ketika pasangan secara sadar dan atas persetujuan bersama membuka kemungkinan adanya hubungan romantis atau seksual dengan orang lain.
Psikolog Amy C. Moors bersama sejumlah peneliti dalam kajian yang diterbitkan Social Issues and Policy Review menjelaskan bahwa CNM telah menjadi bidang penelitian psikologi yang semakin berkembang. Para peneliti menekankan pentingnya memahami hubungan non-monogami tanpa langsung memberikan stigma atau menganggapnya sebagai tanda adanya masalah psikologis.
Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa kualitas hubungan pada pasangan yang menjalani CNM tidak secara otomatis lebih buruk dibandingkan hubungan monogami. Faktor seperti komunikasi, kesepakatan, kepercayaan, dan kemampuan mengelola emosi tetap menjadi hal penting dalam menentukan kualitas hubungan.
Namun, open relationship bukan berarti hubungan tanpa batas. Justru, pasangan perlu memiliki kesepakatan yang jelas mengenai batasan, keterbukaan informasi, kecemburuan, keamanan seksual, hingga konsekuensi jika salah satu pihak merasa tidak nyaman.
Dengan demikian, fenomena open relationship tidak cukup dilihat hanya dari pertanyaan apakah hubungan tersebut “benar” atau “salah”. Dari perspektif psikologi, yang lebih penting adalah apakah hubungan tersebut dijalankan secara sukarela, transparan, saling menghormati, dan tanpa paksaan.
Catatan: Open relationship berbeda dengan perselingkuhan. Dalam perselingkuhan, salah satu pihak melanggar kesepakatan hubungan secara diam-diam; sedangkan dalam CNM, keterlibatan dengan pihak lain merupakan sesuatu yang diketahui dan disepakati oleh pasangan.







