Amora Insight.com-Di lantai dua puluh satu sebuah gedung kaca di kawasan Sudirman, Almira menatap layar komputernya yang penuh angka dan dokumen pengiriman. Kontainer dari Rotterdam harus tiba tepat waktu, dokumen bea cukai tak boleh salah satu digit pun. Ia sudah melakukan ini selama dua puluh tahun—bekerja di perusahaan ekspor-impor, menjadi karyawan yang selalu diandalkan saat krisis.
Usianya empat puluh lima tahun.
Dan bagi sebagian orang di kantor, itu bukan sekadar angka. Itu bahan obrolan.
“Mir, kamu nggak capek sendirian terus?” tanya seorang rekan kerja saat makan siang, dengan nada yang terdengar seperti perhatian tapi terasa seperti vonis.
Yang lain lebih terang-terangan. “Sayang ya, karier bagus tapi nggak kepake kalau pulang ke rumah kosong.”
Almira tersenyum. Senyum yang sudah terlatih. Senyum yang ia gunakan seperti tameng. Ia tidak pernah membalas. Ia tahu, di Jakarta, perempuan lajang seusianya dianggap anomali—seolah hidupnya belum sah hanya karena tak ada cincin di jari manis.
Padahal, ia pernah menunggu. Ia pernah percaya. Ia pernah berharap.
Jakarta mengajarinya keras sejak muda. Ia merantau, meniti karier dari staf administrasi hingga menjadi senior officer. Ia melihat rekan-rekannya menikah, bercerai, menikah lagi. Ada yang bahagia, ada yang patah tanpa suara. Tapi pertanyaan tentang jodoh selalu kembali padanya—seperti utang sosial yang katanya belum ia bayar.
Setiap Lebaran, pertanyaan itu berubah menjadi interogasi keluarga. “Almira kurang apa sih?” “Jangan terlalu pilih-pilih.” “Nanti menyesal, lho.”
Tak ada yang bertanya apakah ia bahagia. Tak ada yang bertanya apakah ia baik-baik saja.
Suatu sore, hujan Jakarta turun deras. Jalanan macet, klakson bersahut-sahutan. Almira memilih berjalan kaki dari halte TransJakarta ke kantor pos kecil di dekat gedung. Ia harus mengirim dokumen asli—pekerjaan lama yang masih memercayai kertas.
Di sana, ia bertemu seorang pria paruh baya yang juga menunggu hujan reda. Kemejanya sederhana, sepatu kerjanya basah. Mereka mengobrol singkat. Tentang hujan Jakarta. Tentang macet yang tak pernah setia pada jadwal.
Namanya Arya. Ia bekerja di perusahaan logistik—mitra jauh dari perusahaan Almira, ternyata.
Tak ada rayuan. Tak ada janji. Hanya percakapan yang jujur dan tenang.
Mereka bertemu lagi. Secara tidak sengaja. Di pelabuhan Tanjung Priok. Di ruang rapat. Di antrean kopi.
Arya tidak pernah bertanya kenapa Almira belum menikah. Ia tidak heran dengan usia. Ia tidak mencoba “menyelamatkan”.
Ia hanya hadir.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Almira merasa tidak perlu menjelaskan hidupnya.
Namun Jakarta tetap Jakarta. Gosip kantor berembus lebih cepat dari angin AC. “Ah paling juga cuma temenan.” “Umurnya udah segitu, ngapain berharap?”
Almira mendengar semua itu. Tapi kali ini berbeda. Ia tidak merasa kecil. Tidak merasa tertinggal.
Suatu malam, di balkon apartemennya, ia menatap lampu-lampu kota. Ia sadar sesuatu yang sederhana namun penting: jodoh bukan tentang siapa yang datang lebih cepat, tapi siapa yang datang tanpa membuatmu merasa salah karena terlambat.
Dan jika pun Arya bukan akhirnya, Almira tahu satu hal pasti—ia tidak gagal sebagai perempuan hanya karena belum menikah.
Di usia empat puluh lima, Almira berhenti mencari jodoh. Ia mulai menemukan dirinya sendiri. Dan anehnya, di situlah segalanya terasa lebih dekat.*






